Comments

Steven Sinofsky Bapak Windows Memutuskan Pergi

Posted by at November 12, 2012 Read our previous post
Windows 8 disebut-sebut sukses memberi penyegaran terhadap produk sistem operasi Microsoft. Tak bisa disangsikan, 'prestasi' itu berkat tangan dingin Steven Sinofsky.

Ya, inilah 'bapaknya' Windows yang juga menjadi 'otak' di balik kemunculan tampilan kotak-kotak ala Windows 8. Namun sayang, tak lama setelah peluncuran OS terbaru Microsoft tersebut, Sinofsky memutuskan untuk pergi.

Tak jelas apa alasan pengunduran diri sosok yang menjabat sebagai Presiden Windows dan Windows Live Grup tersebut. Banyak yang kaget, terlebih Microsoft baru melahirkan Windows 8, 'bayi' yang dirawat Sinofsky dari awal pengembangannya.

"Saya sangat bersyukur dapat bekerja bertahun-tahun dengan Steve (Sinofsky) yang telah memberi kontribusi besar untuk Microsoft," ujar CEO Microsoft Steve Ballmer, dikutip detikINET dari Cnet, Selasa (13/11/2012).

Sinofsky tak lupa memberikan rasa terima kasihnya kepada Microsoft. Ia menyebut banyak hal telah diterimanya selma bertahun-tahun bekerja di perusahaan yang dirintis Bill Gates itu.

"Saya sangat beruntung dapat bekerja di perusahaan mengagumkan ini (Microsoft-red.)," imbuhnya.

Sinofsky sendiri telah mengabdi di Microsoft selama 21 tahun. Ia pertama kali bergabung dengan produsen software raksasa tersebut sejak Juli 1989 sebagai software design engineer.

Saat itu, Sinofsky baru saja menamatkan pendidikan master degree jurusan computer science di Universitas Massachusetts, Amherst. Tak butuh waktu lama, selang tiga tahun, ia dipromosikan untuk menjadi asisten teknis Bill Gates. Itu adalah posisi prestisius bagi para pegawai mud Microsoft.

Sampai pada tahun 1999, karir Sinofsky melesat dengan dipercaya mengisi kursi Senior Vice President untuk produk Office.

Sampai akhirnya, tantangan baru muncul di hadapan pria pelontos ini untuk jabatan Senior Vice President Windows dan Windows Live Grup di tahun 2006.

Tak butuh waktu lama -- atau cuma tiga tahun berselang -- Sinofsky mengambil alih kursi Presiden divisi Windows yang mentereng.

Tugas pertamanya di posisi strategis tersebut adalah meredam 'kegelisahan' pengguna Windows atas performa Vista. Nah, kemudian muncul lah Windows 7 sebagai 'proyek' pertama sang eksekutif dengan jabatan Presiden Windows.

Windows 7 terbilang cukup sukses di pasaran, dengan menghapus keraguan pengguna yang ditinggalkan Vista. Hingga akhirnya pertanyaan kemudian yang muncul adalah, selanjutnya apa?

Jawabannya Windows 8! OS versi terbaru ini pun akhirnya mampu tampil menarik dengan mengusung modern user interface yang ditampilkan lewat gaya kotak-kotak. Tampilan ini dulu sempat disebut 'Metro', namun belakangan ditinggalkan Microsoft lantaran tersandung kasus paten.

Lewat Windows 8 inilah Sinofsky dianggap sukses memberi penyegaran terhadap seri keluarga Windows yang sudah sangat populer. Harapan baru pun muncul bagi Microsoft untuk turut bersaing di ranah OS mobile lewat Windows Phone 8.

Prestasi Sinofsky bahkan membuatnya disebut sebagai CEO-in-waiting alias calon CEO Microsoft berikutnya, saat Steve Ballmer tak lagi menjabat.

"Steven (Sinofsky) memiliki talenta yang jarang dimiliki orang lain," bisik salah satu eksekutif Microsoft kepada Cnet.

Namun sayang, harapan sejumlah pihak untuk melihat Sinofsky menduduki posisi CEO Microsoft sepertinya harus dipinggirkan sejenak. Hal ini setelah sang veteran sudah memutuskan hengkang dari dekapan 'sang raksasa'.

Untuk mengisi kursi lowong yang ditinggalkan Sinofsky, Microsoft sendiri telah menunjuk Julie Larson-Green untuk memimpin lini bisnis software Windows dan hardware engineering.

Sementara Tami Reller akan mengambil alih tanggung jawab terhadap bisnis Windows sekaligus tetap memegang posisinya sebagai Chief Financial Officer dan Chief Marketing Officer Microsoft. Keduanya melapor kepada CEO Steve Ballmer.

Sumber: Ardhi Suryadhi - detikinet

No comments:

© reymondrolas is powered by Blogger -